ASAL-USUL KALIGRAFI ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak pendapat yang mengemukakan tentang siapa yang mula-mula
menciptakan kaligrafi. Untuk mengungkap hal tersebut cerita-cerita
keagamaanlah yang paling tepat dijadikan pegangan.
Para pakar Arab mencatat, bahwa Nabi Adam As-lah yang pertama kali
mengenal kaligrafi. Pengetahuan tersebut datang dari Allah SWT,
sebagaiman firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 31:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhya…. “
Di samping itu masih ada lagi cerita-cerita keagamaan lainnya, misalnya
saja, banyak yang percaya bahwa bahasa atau sistem tulisan berasal dari
dewa-dewa. Nama Sanskerta adalah Devanagari, yang berarti “bersangkutan
dengan kota para dewa”. Perkembangan selanjutnya mengalami perubahan
akibat pergeseran zaman dan perubahan watak manusia.
Akhirnya muncul tafsiran-tafsiran baru tentang asal-usul tulisan indah
atau kaligrafi yang lahir dari ide “menggambar” atau “lukisan” yang
dipahat atau dicoretkan pada benda-benda tertentu seperti daun, kulit,
kayu, tanah, dan batu.
Hanya gambar-gambar yang mengandung lambang-lambang dan perwujudan dari
keadaan-keadaan tertentu yang diasosiasikan dengan bunyi ucap sajalah
yang dapat diusut sebagai awal pembentukan kaligrafi. Dari situlah
tercipta sistem atau aturan tertentu untuk membacanya. Demikian juga
sistem tulisan primitif Mesir Kuno atau sistem yang dikembangkan oleh
kelompok-kelompok masyarakat primitif.
Pada mulanya tulisan tersebut berdasarkan pada gambar-gambar. Kaligrafi
Mesir Kuno yang disebut Hieroglyph berkembang menjadi Hieratik, yang
dipergunakan oleh pendeta-pendeta Mesir untuk keperluan keagamaan. Dari
huruf Hieratik muncul huruf Demotik yang dipergunakan oleh rakyat umum
selama beberapa ribu tahun.
Tulisan yang ditemukan 3200 SM di lembah Nil ini bentuknya tidak berupa
kata-kata terputus seperti tulisan paku, tetapi disederhanakan dalam
bentuk-bentuk gambar sebagai simbol-simbol pokok tulisan yang mengandung
isyarat pengertian yang dimaksud. Kaligrafi bentuk inilah yang diduga
sebagai cikal bakal kaligrafi Arab.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Kaligrafi?
2. Bagaimana Asal Usul Kaligrafi Arab
3. Apakah Seni Kaligrafi
4. Bagaimana Kaligrafi "Murni" dan "Lukisan" Kaligrafi
5. Apakah Model Kaligrafi yang Berkaedah atau "Murni"
C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Kaligrafi
2. Mengetahui Bagaimana Asal Usul Kaligrafi Arab
3. Mengetahui Seni Kaligrafi
4. Mengetahui Bagaimana Kaligrafi "Murni" dan "Lukisan" Kaligrafi
5. Mengetahui Model Kaligrafi yang Berkaedah atau "Murni"
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kaligrafi
Ungkapan Kaligrafi (dari bahasa Inggris yang disederha-nakan
Calligraphy) diambil dari bahasa Latin "kalios" yang berarti "Indah" dan
"graphy" berarti " tulisan atau aksara". Arti seutuhnya kata
"kaligrafi" adalah: kepandaian menuLIS indah, atau tulisan elok. Bahasa
Arab sendiri menyebutnya "khoth" yang berarti Garis atau tulisan Indah.
Garis lintang, equator atau khatulistiwa diambil dari kata Arab
"khaththulistiwa", melintang elok membelah bumi jadi dua bagian yang
sangat indah.
B. Asal Usul Kaligrafi Arab
Beragam pendapat dikemukakan, tentang : siapa yang mula- mula
menciptakan kaligrafi. Barangkali cerita-cerita keagamaan adalah yang
paling dapat dijadikan pegangan. Para pekabar Arab atau Muarrikh
mencatat, bahwa Nabi Adam Aslah yang pertama kali mengenal kaligrafi.
Pengetahuan tersebut datang dari Allah Swt. sendiri melalui wahyu.
Agaknya, inilah yang dimaksud:
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. …
"Allah mengajari Adam pengetahuan tentang semua nama", seperti yang diterangkan dalam al Qur'an (Surat Al Baqarah, ayat 31).
Dikatakan, bahwa 300 tahun sebelum wafatnya, Adam menulis di atas
lempengan tanah yang selanjutnya dibakar menjadi tembikar. Setelah bumi
dilanda banjir bah di zaman Nabi Nuh As. dan air sudah surut, setiap
bangsa atau kelompok turunan mendapatkan tembikar bertulisan tersebut.
Ini pulalah yang dianggap, bahwa setiap bangsa telah punya tulisan
masing-masing.
Kata kaligrafi berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah “tulisan
indah”. Dalam sejarah peradaban Islam, seni tulis huruf Arab yang isinya
berupa potongan ayat Alqur’an atau Hadits Nabi SAW ini mempunyai tempat
yang sangat istimewa. Setiap muslim percaya bahwa Bahasa Arab adalah
bahasa yang digunakan oleh Tuhan ketika menurunkan Alquran kepada Nabi
Muhammad SAW. Bahasa ini juga digunakan dalam seluruh tata peribadatan
oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Karena di dalam ajaran Islam
lukisan berupa mahluk hidup adalah termasuk sesuatu yang dilarang, maka
kaum muslimin mengeskpresikan gairah seninya antara lain lewat seni
kaligrafi ini. Karya-karya kaligrafi ini banyak menjadi hiasan di banyak
bidang, mulai dari bangunan, koin, seni dekoratif, permata, tekstil,
senjata sampai manuskrip.
Kebangkitan baca tulis kaum muslimin dimulai sejak tahun 2 Hijriyah
ketika Rasulullah mewajibkan kepada tawanan perang yang tidak mampu
membayar tebusan untuk mengajari baca tulis kepada orang muslimin. Pada
masa itu kaligrafi masih menggunakan Khat Kufi ( khat yang berbentuk
siku) yang merupakan kaligrafi paling tua. Kufi saat itu masih belum
mepunyai tanda baca sampai pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib
tulisan tersebut mempunyai tanda baca dengan sempurna.
Pada masa kekhalifahan Bani Umayyah mulai timbul ketidakpuasan terhadap
khat kufi yang dianggap terlalu kaku dan sulit digoreskan, sehingga
dimulailah perumusan tulisan yang lebih lembut dan mudah digoreskan.
Meskipun sebenarnya Bahasa Arab telah berkembang jauh sebelum Islam
lahir, tetapi bahasa ini menyebar dengan cepat sejalan dengan
perkembangan agama Islam. Khalifah Abdul Malik (685-705 M) dari Bani
Umayyah membuat sebuah keputusan politik yang sangat penting dalam
bidang ini yaitu dengan menetapkan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi
seluruh wilayah Islam, meskipun pada awalnya Bahasa Arab bukan bahasa
yang dipakai di wilayah-wilayah tersebut.Perumusan tersebut menghasilkan
beberapa jenis tulisan yaitu, Khat Tumar, Jalil, Nisf, Tsulus dan
Tsulusain. Tokoh kaligrafi saat itu yangterkenal adalah Qutbah
al-Muharrir.
Pada awalnya, kaligrafi Islam banyak ditulis di atas kulit atau daun
lontar. Penemuan kertas di Cina pada pertengahan abad 9 M berperan cukup
besar dalam perkembangan seni ini, kertas harganya relatif lebih murah,
cukup melimpah, mudah dipotong dan dari sisi teknik pewarnaan lebih
mudah daripada bahan-bahan yang dipakai sebelumnya.
Ibnu Muqla (886-940 M) adalah salah seorang kaligrafer terbaik pada masa
awal perkembangan seni kaligrafi Islam. Dia mengembangkan
prinsip-prinsip geometris dalam kaligrafi Islam yang kemudian banyak
digunakan oleh para kaligrafer yang datang sesudahnya, dia juga berperan
mengembangkan tulisan kursif yang di kemudian hari dikenal sebagai gaya
Naskh yang banyak dipakia untuk menulis mushaf Alqur’an.
Pengembangan kaligrafi terus dikembangkan sampai pada zaman Bani
Abbasiyah sehingga muncul kaligrafi yang merupakan gaya baru ataupun
modifikasi gaya lama seperti, Khat khafif Tsulus, Khafif Tsulusain,
Riyasi dan al-Aqlam as-Sittah (Tsulus, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riq’ah
dan Tauqi). Adapun tokoh-tokoh kenamaan pada masa ini adalah Ibnu
Muqlah, Ibnu Bauwab dan Yaqut al-Musta’tsimi.
Abad ke-13, di mana bersama Yaqut, adalah abad kehancuran dan
pembangunan kembali di negeri Islam Timur. Penghancuran tu terjadi
akibat serbuan Jengis Khan (1155-1227) dan pasukan Mongolnya, dan
memuncak dengan ditaklukannya Bagdad oleh putranya Hulagu pada tahun
1258 dan kejatuhan terakhir kekhalifahan Abbasiyyah.
Pembangunan kembali hampir secara langsung oleh pemantapan kekuasaan
Mongol, dan putera Hulagu, Abaga (1265-82), adalah penguasa pertama yang
memberikan gelas Il- Khan (penguasa Suku) bagi dinasti baru tersebut.
Adalah sangat menakjubkan bahwa Islam mampu, setelah dihancurkan
sedemikian rupa, bangkit kembali dan meneruskan vitalitasnya yg tak
pernah berkurang. Kurang dari setengah abad setelah kehancuran Bagdad,
Islam memperoleh kemenangan atas penakluknya yang kafir, sebab, tidak
hanya buyut Hulagu, Ghazan (1295-1305) memeluk Islam, melainkan dia juga
yang menjadikan Islam sebagai agama resmi seluruh negeri yang
diperintahnya.
Ghazan menjadi seorang Muslim ya terpelajar, teguh dan membaktikan
sebagian besar hidupnya demi kebesaran Islam dan kebangkitan kembali
kebudayaannya. Dia memberikan dorongan yang amat besar terhadap seni
Islam, termasuk kaligrafi dan penyalinan buku!
Tradisi ini dilanjutkan oleh saudara dan penggantinya Uljaytu (1306-16),
yang pemerintahannya berlimpah dengan kebesaran seni dan kemajuan
sastra. Dia beruntung memiliki menteri dua tokoh yang berpikiran terang,
Rashid al-Din dan Sa’d al-Din, yang mendorong dia melindungi kaum
terpelajar, para seniman dan ahli kaligrafi.
Di bawah kekuasaannya, seni kaligrafi dan penerangan Il-Khanid mencapai
puncaknya, sebagaimana dapat dilihat dari salinan al-Quran yang sangat
indah dalam tulisan Rayhani yang ditulis atas perintah Ulyaytu dan
disalin serta diperterang pada tahun 1313 oleh Abd Allah ibn Muhammad
al-Hamadani.
Pendekar kaligrafi yang lain pada masa awal dinasti Il-Khan, yang
dibimbing oleh Yaqut, adalah Ahmad al-Suhrawardi, yang meninggalkan
untuk kita salinan al-Qur’an dalam tulisan Muhaqqaq tahun 1304.
Selanjutnya Kaligrafi masuk pada masa penghalusan untuk menghasilkan
karya-karya yang lebih sempurna yang dimulai pada zaman
kerajaan-kerajaan Persia sehingga menghasilkan gaya-gaya kaligrafi
seperti, Khat Farisi, Ta’liq, Nasta’liq, Gubar, Jali, Anjeh Ta’liq,
Sikatseh, Sikatseh Ta’liq, Tahriri, Gubari ta’liq, Diwani dan Diwani
Jali. Sedangkan tokoh-tokohnya adalah, Yahya al-Jamili, Umar Aqta, Mir
Ali Tibrizi, Imanuddin al-Husaini, Muhammad bin al-Wahid, Hamdullah
al-Amasi, Ahmad Qurahisari, Hafiz Usman, Abdullah Zuhdi, Hamid al-Amidi
dan Hasyim Muhammad al-Bagdadi (enam terakhir adalah dari Turki Usmani
sampai Turki Modern)
Saat ini sebagian dari ratusan jumlah gaya kaligrafi yang telah
berkembang telah pupus dan yang masih berkembang dan paling fungsional
di seluruh dunia islam adalah, naskhi, Tsulus, Raihani, Diwani, Diwani
Jali, Riq’ah dan Kufi.
Di Indonesia sendiri Kaligrafi pertama kali ditemukan di Gresik Jawa
Timur , yaitu pada makam Fatimah binti Maimun yang wafat pada
495H/1028M. pada makam tersebut terdapat tulisan Kaligrafi yang
menggunakan Khat Kufi. Selanjutnya kaligrafi berkembang mengikuti
perkembangan Islam di Indonesia sampai saat ini.
C. Seni Kaligrafi
Seni kaligrafi adalah: seni tulis yang indah, model tulisan Arab, Latin,
India, Cina, Jawa dan model tulisan lainnya. Seni kaligrafi ini dapat
dipelajari oleh siapa saja yang berminat, baik bagi yang berbakat dalam
bidang seni, seniman bukan-bukan seniman, karena keseharian selalu
melakukan kegiatan menulis. Pembelahan seniman dan bukan seniman,
anggapan ini menimbulkan rasa pesimis untuk belajar atau memulai belajar
tulisan indah. Sebab baik dan jeleknya tulisna bukan faktor bakat seni
saja, namun tolok ukurnya juga masalah belajatr dan berlatih secara
konsisten dan tekun, disamping faktor sarana alat dan bahan.
D. Kaligrafi "Murni" dan "Lukisan" Kaligrafi
Beberapa tahun terakhir ini muncul "wabah" demam kaligrafi Indonesia.
Sering diistilahkan adanya jenis kaligrafi "murni" dan "lukisan"
kaligrafi. Kaligrafi "murni", Istilah ini muncul tidak lepas dari
perkembangan kaligrafi kontemporer, di mana huruf bukan menjadi sesuatu
yang utama, tetapi juga keindahan yang merupakan unsur dari kaligrafi
itu sendiri. Kaligrafi pada awalnya merupakan seni memadukan huruf
dengan jenis tertentu sesuai dengan kaidah akhirnya “keluar jalur” tanpa
memedulikan kaidah baku. Nah, yang tetap mengikuti kaidah baku –sesuai
dengan jenis kaligrafi “yang diakui”– kemudian dinamai kaligrafi murni.
Seolah merupakan kaidah baku, kaligrafi murni tidak boleh keluar dari
jalur penulisan: bagaimana bentuk huruf, torehan, maupun ketepatan dalam
sapuan. Jenis-jenis kaligrafi juga telah diklasifikasi. Penggunaannya
tidak boleh bercampur satu dengan yang lain. Kaligrafer murni “terakhir”
Hasyim Muhammad Al Khattahath menerapkan kaidah kaligrafi dalam sebuah
buku panduan yang cukup terkenal bernama Qawaidul Khath Alarabiy. Buku
ini beredar luas di Timur Tengah, akhirnya sampai di pondok pesantren di
Indonesia. Tidak banyak yang memiliki, hanya orang-orang tertentu yang
mempunyai akses ke luar negeri –khususnya Timur Tengah– yang mempunyai
buku aslinya.
Lukis kaligrafi adalah sebuah lukisan dengan mengambil objek huruf-huruf
Arab. Biasanya mengambil ayat-ayat Alquran maupun hadist yang diiringi
background seirama. Kadang objek kaligrafi hanya sebagai pelengkap, dan
kadang merupakan kaligrafi berhias sebuah objek. Tidak bisa
diproporsikan persentase objek kaligrafi dan lukis itu. Ketika sebuah
lukisan ada objek huruf arab yang merangkai kalimat ayat maupun hadist,
maka lukisan tersebut bisa dikatakan lukis kaligrafi. Lukisan kaligrafi
merupakan seni lukis yang menampilkan aksara Arab sebagai subject-matter
(sasaran) utuh atau sebagian, atau mengambil beberapa huruf saja.
Secara prinsip kaligrafi lukis (lukisan kaligrafi) berbeda dengan
kaligrafi tulis (kaligrafi murni). Pada lukisan kaligrafi terdapat
sejumlah kebebasan dalam berekspresi. Sedangkan dalam kaligrafi tulis,
dikenal beberapa macam ketentuan pokok dan rumus-rumus baku. Lukisan
kaligrafi secara mendasar berbeda dengan lukisan biasa. Di samping si
pelukis harus memiliki niat suci dan hati bersih, pemilihan medianya pun
harus benar dan tepat.
Menurut Affandi, lukisan kaligrafi adalah karya cipta manusia sebagai
hasil pengolahan ungkapan batinnya melalui susunan unsur-unsur tulisan
dan unsur-unsur dwi marta yang lain, yang memiliki sifat-sifat simbolik,
religius, dan estetik. Membawa pesan kebaikan antara hubungan manusia
dengan Tuhan, manusia dengan manusia serta manusia dengan alam. Jadi,
setiap lukisan kaligrafi memiliki kebebasan dalam gaya atau corak
tulisan sehingga tercipta suatu kesatuan bentuk lukisan yang sesuai
dengan keinginan penciptanya.
E. Model Kaligrafi yang Berkaedah atau "Murni"
Seni kaligrafi yang merupakan kebesaran seni Islam, lahir di
tengah-tengah dunia arsitektur dengan segar bugar. Ini dapat dibuktikan
pada aneka ragam hiasan kaligrafi yang memenuhi masjid-masjid dan
bangunan lainnya, yang dituangkan dalam paduan ayat-ayat suci Al Qur'an,
Hadits Nabi dan kata Hikmah Ulama arif bijaksana. Demikian pula
mushaf-mushaf Al Qur'an banyak ditulis dengan pelbagai model kaligrafi
yang digores corak-corak hias puspa ragam mempesona. Tidak dapat
disangkal lagi , bahwa penerimaan seni kaligrafi sebagai kesukaan merata
di kalangan umat Islam adalah pengaruh motivasi Al Qur'an untuk
mempelajarinya. Ayat-ayat Al Qur'an, Sabda-sabda Nabi Muhammad SAW
berulang-ulang menyebut "fadhilah" benda-benda (Pena, tinta dan kertas).
Ada beberapa model kaligrafi yang berkaedah atau kali grafi murni, antara lain sebagai berikut :
1. NASKHI, tulisan model ini yang turun temurun sejak kelahirannya
hingga kini tetap digunakan dalam pelbagai penulisan naskah-naskah
ilmiyah (kitab), majalah, surat kabar dan lain-lain. Terutam dalam Al
Qur'an ataupun Hadits serta kitab Tafsir, Fiqih, Nahwu-Sorof dan
sebagainya. Tulisan model inilah yang banyak tersebar luas ke seluruh
permukaan bumi ini. Tulisan ini mudah dikenal dan dipahami, karena
disamping bentuknya yang sederhana, luwes juga tidak banyak Variasi.
Contoh :
2. TSULUTSI, tulisan tersebut lebih bersifat monumental, terutama
dipakai untuk tujuan-tujuan dekorasi dalam dunia mediamasa cetak,
buku-buku ilmiyah, dan sekarang banyak dipakai untuk menghiasi
tembok-tembok gedung. Tsulutsi kerap digunakan untuk judul-judul,
gelar-gelar dan nama-nama penerbitan. Teks buku yang keseluruhannya
menggunakan tsulutsi kini sudah tidak ada lagi, karena dipandang
lebihpantas untuk corak-corak hiasan. Contoh :
3. RAYHANY (IJAZAH), pada suatu sumber menyebutkan, bahwa Rayhany
berasal dari Naskhi. Namun ditilik dari bentuknya juga bagian dari
Tsulutsi dengan lebih banyak diberi variasi. Huruf-hurufnya mempunyai
keistimewaan dengan bentuk alif pitusrat, melengkung pada bagian atas
huruf. Contoh :
4. DIWANI, tulisan ini beberapa abad digunakan untuk menulis pada
dewan-dewan (perkantoran) Pemerintahan Islam. Dipergunakan dalam hal-hal
yang bersifat seni, seperti judul karangan, nama-nama, brosur dan
lain-lain yang menitik beratkan nilai-nilai artistiknya. Bentuknya
sangat condong, bersusun-susun saling tumpang tindih , saling
bersambungan dan jarang memakai harokat atau baris. Bentuk huruf
diperoleh dengan memainkan pena agar menjadi huruf-huruf berekor. Contoh
:
5. DIWANI JALI, sama dengan diwani, namun dikenal juga dengan nama
HUMAYUNI (=kekaisaran, kerajaan). Ada yang menamakan MUQADDASI, penamaan
ini dimaksudkan untuk tulisan yang digunakan oleh para sultan penguasa
dengan lindungan Allah Swt. Ciri yang paling tampak adalah hiasan yang
sangat dalam bentuk dekorasi yang terfokus pada susunan padat berkerumun
menjadikan bentuk-bentuk geometrikal. Kegunaan nya seperti Diwani,
untuk keartistikan yang maksimal. Contoh :
6. FARISI, tulisan ini lahir di Persia (Arab-Furs). Khot ini
sumbernya dari khoth naskhi, yaitu pada bentuk-bentuk huruf yang belum
disambung. Posisinya condong ke kanan, sedangkan khoth naskhi ke kiri.
Banyak dipaki untuk suatu judul dalam mediamasa dan buku ilmiyah. Contoh
:
7. KUFI, tulisan ini lahir di Koufah (Irak), melalui proses uji
ratusan tahun, sehingga menjadi semacam "isme" yang dinasabkan dari nama
kota kelahirannya, koufah. Pada waktu kejayaan Daulat Abasiyah
dipergunakan penghias bangunan yang ditulis dan diukirkan dengan bentuk
timbul. Sekarang dipakai penulisan media massa, buku dan lain-lain.
Contoh :
8. RIQ'AH, adalah model yang paling mudah, karena itu paling sering
digunakan untuk menulis, disamping penulis dapat menulis dengan cepat
juga khoth ini tanpa variasi bahkan banyak penyederhanaan. Titik dua
dapat dibentuk menjadi satu garis pendek, gigi-gigi huruf sin dibentuk
satu garis, huruf hak di akhir kalimah dibentuk segitiga. Contoh:
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Ungkapan Kaligrafi (dari bahasa Inggris yang disederha-nakan
Calligraphy) diambil dari bahasa Latin "kalios" yang berarti "Indah" dan
"graphy" berarti " tulisan atau aksara".
Dikatakan, bahwa 300 tahun sebelum wafatnya, Adam menulis di atas
lempengan tanah yang selanjutnya dibakar menjadi tembikar. Setelah bumi
dilanda banjir bah di zaman Nabi Nuh As. dan air sudah surut, setiap
bangsa atau kelompok turunan mendapatkan tembikar bertulisan tersebut.
Ini pulalah yang dianggap, bahwa setiap bangsa telah punya tulisan
masing-masing.
Seni kaligrafi adalah: seni tulis yang indah, model tulisan Arab, Latin,
India, Cina, Jawa dan model tulisan lainnya. Seni kaligrafi ini dapat
dipelajari oleh siapa saja yang berminat, baik bagi yang berbakat dalam
bidang seni, seniman bukan-bukan seniman, karena keseharian selalu
melakukan kegiatan menulis.
Kaligrafi "murni", Istilah ini muncul tidak lepas dari perkembangan
kaligrafi kontemporer, di mana huruf bukan menjadi sesuatu yang utama,
tetapi juga keindahan yang merupakan unsur dari kaligrafi itu sendiri.
Lukis kaligrafi adalah sebuah lukisan dengan mengambil objek huruf-huruf
Arab. Biasanya mengambil ayat-ayat Alquran maupun hadist yang diiringi
background seirama. Kadang objek kaligrafi hanya sebagai pelengkap, dan
kadang merupakan kaligrafi berhias sebuah objek.
Seni kaligrafi yang merupakan kebesaran seni Islam, lahir di
tengah-tengah dunia arsitektur dengan segar bugar. Ini dapat dibuktikan
pada aneka ragam hiasan kaligrafi yang memenuhi masjid-masjid dan
bangunan lainnya, yang dituangkan dalam paduan ayat-ayat suci Al Qur'an,
Hadits Nabi dan kata Hikmah Ulama arif bijaksana. Demikian pula
mushaf-mushaf Al Qur'an banyak ditulis dengan pelbagai model kaligrafi
yang digores corak-corak hias puspa ragam mempesona. Tidak dapat
disangkal lagi , bahwa penerimaan seni kaligrafi sebagai kesukaan merata
di kalangan umat Islam adalah pengaruh motivasi Al Qur'an untuk
mempelajarinya. Ayat-ayat Al Qur'an, Sabda-sabda Nabi Muhammad SAW
berulang-ulang menyebut "fadhilah" benda-benda (Pena, tinta dan kertas).
DAFTAR PUSTAKA
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1997. “Kaligrafi”, Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve
http://arisandi.com/asal-usul-kaligrafi/
Majalah. 1404 H. 1984 M. Lisan. Bulan Ke-3. Malang
Muhamad, Hashim, Al Khattat. 1961. Rules For Arabic Penmanship. Baghdad: The Institute Of Fine Arts
Rifan S, M. Tt. Contoh Aneka Model Huruf Seri Arab. Surabaya: CV. Al- Ihsan
Shofwan, A. Aziz. 1982. Seni Rupa. Diktat. Batu
Shiddiq, Noor Aufa, 1409 H. Kaligrafi Arab, Surabaya: Penerbit Bintang Terang
Sirajuddin AR, 1985. Seni Kaligrafi Islam. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas
________. 2001. Keterampilan Menulis Kaligrafi Bagi santri Pondok Pesantren. Jakarta: Departemen Agama RI














0 komentar:
Posting Komentar