This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 17 Oktober 2014

SEJARAH BAHASA INDONESIA


1.Bahasa Melayu Sebelum Masa Kolonial  
Bahasa Melayu sudah dipakai sejak zaman kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Bukti-bukti tertulis mengenai bahasa melayu terdapat alam prasati-prasasti, seperti prasasti kedukan Bukit di sekitar Palembang pada tahun 683 Masehi, prasasti Kota Kapur tahun 686 Masehi, prasasti Talang Tuwo tahun 684 Masehi,serta prasati Karang  Brahi tahun 688 masehi (di sekitar            Jambi).
Selain prasasti-prasati tersebut, di pulau Jawa , di daerah Kedu ditemukan pula prasasti yang terkenal dengan nama Inskripsi Gandasuli Tahun 832 Masehi. Berdasarkan penelitian Dr. J. G. de Casparis dinyatakan bahwa prasasti tersebut memakai bahasa melayu Kuno.

2.Bahasa Melayu  pada  Masa Kolonial
Ketika orang-orang Barat sampai ke Indonesia abad XVI, mereka menemukan suatu kenyataan bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa yang dipakai dalam kehidupan luas di Nusantara. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa kenyataan; misalnya seorang Portugis bernama pigefett setelah mengunjungi Tidore, menyusun semacam daftar bahasa melayu pada tahun 1522. Jan Huvgenvan Linschoten, menulis buku yang berjudul"Itineratium ofte Schipvaert naerqost Portugels Indiens."
Baik bangsa Portugis maupun bangsa belanda yang datang ke Nusantara mendirikan sekolah-sekolah. Mereka terbentur dalam soal bahasa pengantar. Usaha-usaha untuk memakai bahasa mereka sendiri selalu menemukan kegagalan karena bangsa pribumi telah menggunakan bahasa melayu serta menghormatinya. Hal itu diakui oleh Danckaerts (1631) warga Belanda. Kegagalan dalam mempergunakan bahasa-bahasa itu, memuncak dengan dikeluarkannya keputusan pemerintah koloni yang menyatakan bahwa pengajaran di sekolah-sekolah bumi putera diberikan dalam bahasa daerah atau Melayu.


3.Bahasa Melayu pada Masa Pergerakan
Dengan timbulnya kesadaran kebangsaan dalam rangka mempersatukan suku-suku bangsa di Indonesia maka perlu adanya suatu bahasa yang bersifat nasional. Untuk itu para tokoh pergerakan mencari bahasa yang dapat dipahami dan dikuasai oleh segenap lapisan suku yang ada. dari hasil pemikiran para tokoh tersebut dan dibantu oleh Dewan Rakyat,akhirnya dipilih bahasa Melayu.Sejarah telah mencatat bahwa sumpah pemuda 28 Oktober 1928 merupakan titik kulminasi sebagai penentuan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.   
Slamet Mulyana, seorang ahli bahasa mengemukakan empat faktor yang menjadi landasan.
1. Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca yaitu bahasa yang banyak dipakai oleh sebagian besar rakyat Indonesia.
2. Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana dibandingkan dengan bahasa daerah lain yang tersebar di Nusantara sehingga mudah dipahami dan dipelajari.
3. Faktor psikologis, yaitu adanya kerelaan dan dukungan dari semua suku bangsa yang ada di Indonesia.
4. Adanya kesanggupan dari bahasa Melayu itu sendiri untuk mewadahi semua corak budaya bangsa Indonesia.